KSU Baliem Arabica

Kenggi Abolok, Kambel Abolok

Menu
Salam jumpa di KSU Baliem Arabica, Exportir Pertama Produk Tanah Papua dan Pemilik Waralaba PAPUAmart.com

Utusan KSU Baliem Arabica dan Presiden Republik Palau: Thomas Esang Remengesau, Jr.

Nov
13
2014
by : admin. Posted in : Sales & Marketing

Sebuah peristiwa menarik terjadi hari ini, 13 November 2014, tepatnya di Olympic Park, Sydney, Australia, di mana utusan KSU Baliem Arabica, Kepala Unit Sales dan Marketing KSU Baliem Arabica Jhon Yonathan Kwano bertemu langsung dengan Presiden Republik Palau Thomas Esang Remengesau, Jr. Pertemuan ini terjadi karena apa yang telah dilakukan oleh sang Presiden merupakan satu-satunya langkah di muka Bumi, dari seluruh Presiden di dunia yang berani dan tepat dalam rangka membela hak asasi dari makhluk lain selain manusia. Bertentangan dengan apa yang dilakukan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang membentuk satu Kementerian Khusus di bidang kemaritiman dan kelautan dengan segala isinya, dalam rangka menguras kekayaan alam yang ada di dalam laut untuk kepentingan ekonomi dan makanan ikan bagi para orang kaya di luar negeri, Preisden Palau menyatakan: Menolak dengan Tegas kegiatan di peraidan Palau yang berorientasi ekspor yang semata-mata mengutamakan kekayaan ekonomi dan uang. Presiden Palau mengumumkan seluruh wilayah Zona Ekonomi Eksklusiv (Exclusive Economic Zone – EEZ) sebagai areal terlindungi. Dengan pelarangan tersebut maka seluruh kegiatan di laut di wilayah EEZ sebagai zona terlarang bagi kegiatan perikanan seperti pemancingan dan kegiatan lainnya yang berorientasi ekonomi.

Presiden Palau tidak menutup mata atas kebutuhan masyarakat setempat dan orang asing yang datang ke negaranya. Ia katakan, “Siapa saja kami persilahkan datang dan makan ikan dan hasil laut yang kami sajikan di sini, di Palau, tetapi kami tidak memproduksi ikan untuk diekspor ke luar negeri. Kami tidak kirim produk laut kami ke luar negeri. Yang mau silahkan datang kemari dan makan di sini!” Masih menurutnya lagi,

Dengan cara ini, ikan kami akan melimpah, karena kami melarang penggunaan metode canggih dan bom atau racun dalam memancing ikan. Kebutuhan ikan di Palau juga ditekan sementara harga ikan kami naikkan sehingga persediaan unutuk konsumen di dalam negeri tersedia menurut kebutuhan, dengan harga yang cukup memadai tinggi sehingga pendapatan para nelayan tetap terpenuhi, dan pada saat yang sama ikan tidak dihabiskan hanya gara-gara untuk mencari uang dengan mengorbankan kepentingan kelestarian laut kita.

Ia memulai pidato singkatnya dengan mengatakan,

“Saya ini seorang pelaut, saya seorang nelayan. Ayah saya seorang nelayan, kakek saya seornag nelayan, anak dan cucu saya juga nelayan. Orang Palau tidak dapat dipisahkan dari laut dan hasil laut. Orang Palau tidak boleh dikorbankan karena hasil laut yang dibutuhkan oleh orang asing di luar sana. Siapa saja yang mau ikan, mari datang dan makan di sini, di Palau”

Mendengar pidato ini, tentu saja utusan KSU Baliem Arabica terbayang tentang masalah yang akan segera menimpa di perairan Indonesia, dengan terbentuknya sebuah Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan para menteri yang adalah pedangan ikan yang berorientasi ekspor, konon para menteri yang bersangkutan dari pengusaha kecil adalah pengekspor ikan, yang adalah kekayaan alam Indonesia. Indonesia sedang mendayung perahu NKRI ke arah yang jelas-jelas bertentangan dengan kapal “Palau” atau dalam gersi Melayu kita sebut negara “Pulau” ini. Dari pidato kampanye sampai pidato pengambilan sumpah, Joko Widodo sudah berulang-kali mengatakan betapa laut Inodnesia sedang tertidur dan harus dibangunkan. Arti sebenarnya ialah “Laut Indonesia belum diexplorasi dan belum dikeruk untuk kepentingan asing, oleh karena itu saya ditugaskan untuk mengeruknya dalam rangka melayani kepentingan konsumen di luar negeri sana.”

Secara khusus sang Presiden Palau menyempatkan diri berbicara dengan utusan KSU Baliem Arabica selama sekitar lima menit dan menyatakan,

Saya undang Anda, pemerintah Anda datang ke Palau dan lihat apa yang sudah kami lakukan, dan jangan lupa bawa pelajarang dari tempat Anda untuk diajarkan kepada kami juga. Kami terbuka. Tempat anda tidak jauh dari tempat saya, lebih dekat ke Palau daripada ke Jakarta, bukan?”

Sebagai tanggapan Jhon Kwnao menyatakan akan berusaha menyampaikan pesan ini kepada Gubernur Provinsi Papua dan Gubernur Provinsi Papua Barat, untuk selanjutnya diteruskan kepada Presiden Republik Indonesia, untuk melihat ke Palau, sisi lain dari potensi laut yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan makhluk-makhluk selain manusia, juga, tidak hanya untuk kepentingan ekonomi manusia.

Dari Kantor Kepresidenan Republik Palau menyatakan akan sangat bersedia datang ke Tanah Papua, khususnya Raja Ampat dan pesisir Utara Papua untuk melihat kemungkinan pelajaran dari Palau diterapkan di Papua dan Papau Barat. Menanggapi itu, Jhon Kwano menyatakan akan melobi dua Gubernur di Tanah Papua untuk berkunjung ke Palau sebagai langkah awal dalam mengambil kebijakan strategis menyangkut perairan dan kelautan sekitar pulau New Guinea bagian barat. Semoga pertemuan ini tidak sia-sia, tetapi berlanjut menjadi sebuah langkah awal menuju Perairan dan Laut Papua yang lestari, bersih dan menawan sebagai bagian tak terpisahkan dari Bumi Surgawi.

artikel lainnya Utusan KSU Baliem Arabica dan Presiden Republik Palau: Thomas Esang Remengesau, Jr.

Friday 17 July 2015 | Sales & Marketing

Musim Panen Kopi Papua tahun 2015 telah dimulai sejak awal Juli 2015, dan kini memasuki proses…

Saturday 2 July 2016 | Sales & Marketing

Dengan mengucapkan syukur dan banyak terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Pelindung dan Penyayang, Pohon Berkat yang…

Sunday 17 August 2014 | Sales & Marketing

Penawaran Khusus Panen Perdana Musim Panen 2014 Berakhir pada tanggal 17 Augstus 2014 Dengan mengucapkan ucapan…

Tuesday 18 November 2014 | Sales & Marketing

Danil adalah nama seorang Kepala Suku, atau lebih tepat saya sebut Tua Adat dari negara bekas…